Ada Yang Beda Dengan Sasirangan?
Kain
sasirangan merupakan kain khas masyarakat Banjar. Corak, warna dan motifnya
sangat bervariasi. Kain sasirangan merupakan kerajinan khas Kalimantan
Selatan yang banyak dimanfaatkan sebagai ikat kepala, sabuk untuk kaum
lelaki, serta sebagai selendang, kerudung, dan juga kemben bagi kaum wanita
meski mulanya hanya diperuntukkan sebagai sarana pelengkap dalam terapi
pengobatan oleh para tetua masyarakat setempat. Dalam pembuatannya,
para pengrajin kain sasirangan menerapkan proses pewarnaan dengan perintang
yaitu dijahit menggunakan benang atau tali rafia sesuai corak yang
dikehendaki. Selain diperoleh dari jahitan atau kombinasi ikatan, motif dan
corak kain sasirangan juga sangat dipengaruhi oleh komposisi warna yang
diciptakan. Ada salah satu kain sasirangan yang berbeda dari kain sasirangan
pada umumnya, apalagi kalau bukan Sasirangan Bordir. Sasirangan Bordir adalah
sasirangan hasil kreasi dari Hj. Henny Rusilawati.
Di
rumah produksinya Diyang Kinjut Sasirangan Bordir di Jalan A Yani Km 23,7
Landasan Ulin Kota Banjarbaru, para tamu dan pengunjung lainnya dapat melihat
dari dekat proses produksi sasirangan bordir.
Awal
mulanya beliau berusaha di bidang tata rias pengantin. Saat itu banyak yang
menginginkan gaun sasirangan, termasuk
keponakan Rudy Arifin menginginkan gaun penganatin yang ingin ia pakai
adalah gaun pengantin yang terbuat dari kain Sasirangan. Lalu beliau berpikir,
kalau pengantin ingin memakai gaun sasirangan, maka gaun tersebut akan tampak
sama dengan pakaian para tamu yang hadir diacara pernikahan itu. akhirnya
tercetuslah ide untuk membuat gaun pengantinnya agar tampak berbeda dengan pakaian para tamu yang datang ke acara tersebut,
yaitu dengan menambahkan bordir di Sasirangan sehingga Sasirangan yang dipakai
pengantin tampak lebih elegan. Sejak itulah Sasirangan Bordir terus
dikembangkan hingga sekarang.
Untuk
motifnya sendiri, Sasirangan Bordir tetap menggunakan motif khas adat banjar
seperti: sisik teringgiling, gigi haruan, dan lain sebagainya. motif dari
sasirangan Bordir itu sendiri menyesuaikan dengan adat banjar. Selain itu motif
dari Sasirangan Bordir ini juga memiliki motif tersendiri yang dikembangkan oleh
ibu Hj. Henny Rusilawati. Dari motif-motif itulah masyarakat menyukai
sasirangan bordir ini. Karena berbeda dengan sasirangan pada umumnya. Harga
yang ditawarkanpun cukup terjangakau untuk masyarakat. Untuk pembordirannya,
motif yang standar hanya memerlukan waktu 2 jam saja untuk 1 kain Sasirangan.
Satu harinya bisa sampai 6 kain yang bisa dibordir.
Seiring
dengan berjalannya waktu, proses produksi sasirangan bordir semakin berkembang,
peminatnya pun meluas. Sasirangan bordir inipun ditetapkan dan dipatenkan oleh Wali
Kota Banjarbaru, H Nadjmi Adhani, sebagai seni kerajinan khas Kota Banjarbaru.
Sasirangan bordir ini sendiri sering diikutkan dalam pameran sehingga semakin
dikenal luas oleh masyarakat.
Toko
Diyang Kinjut yang berlokasi di Jalan A Yani 23,7 Landasan Ulin ini sangat strategis.
Karena tempatnya yang berada dipinggir jalan raya, sangat nyaman untuk tempat
singgah, dan lokasi tempat parkirnya juga cukup luas. Menurut Ibu
fatma salah satu penjaga toko Diyang Kinjut, toko ini mulai beroperasi
kira-kira 7 tahun yang lalu. Toko biasanya buka setiap hari dari
pukul 09.00 sampai dengan pukul 17.00. terkecuali ada pameran baru toko ini
tutup.
Komentar
Posting Komentar